Mihae’s POV :
Hai perkenalkan. Namaku adalah Choi Mihae. Aku putri dari Choi Dongmin dan pasangannya Kim Eunhyi. Saat ini aku masih duduk di kelas 3 SMA. Ya. 3 bulan lagi aku akan lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah dimana Sungmin kuliah. Siapakah dia ? Dia adalah teman mainku dari kecil. Umurnya memang berbeda 2 tahun dari ku, tapi karena kebiasaan dari kecil maka aku tidak memanggilnya dengan sebutan oppa dan menurutku dia sangat mengagumkan. Ya. Aku memang menyukainya dari lama. Mungkin semenjak masa pubertasku datang. Tapi, aku tidak mau jujur padanya dan mengharapkan apa-apa darinya. Aku tak ingin merusak hubunganku dengannya.
Hari ini dia datang ke rumahku. Tepatnya masuk ke kamarku. Ya. Itu sudah sangat biasa bagi kami yang memang dari kecil bersahabat ini. Dia hari ini datang khusus untuk mengajariku matematika. Pelajaran yang jujur saja membuatku sangat muak.
“Aish~Pabo! Ini loh tinggal dimasukkan saja angkanya !” ucap Sungmin Oppa yang kesal mengajariku
“Ah~ Kau ini. Sabar dong kalau mengajari aku! Udah tahu aku pabo di matematika! Hih!” ucapku kesal sambil menghapus hasil yang kukerjakan
“Masalahnya kau parah sekali! Ini soal seperti ini adikku saja bisa mengerjakan!” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk soal dengan penggaris
“Issssh! Kau dan keluargamu kan memang keturunan jenius!” jawabku melemparkan serbuk-serbuk penghapus ke mukanya
“Ya~Kau pikir kau tidak? Lihat ayahmu, seorang rektor ! Ibumu seorang designer!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku
“Tapi tak ada satupun yang menurun padaku! Puas?!” ucapku melipat tanganku merajuk
“Yaaaah~ Jangan merajuk dong, Mihae-ah… Mianhae. Aku akan lebih sabar. Yaaa? Yaaa?” pintanya menarik tanganku
“Ngga tau ah! Kau sudah merusak moodku untuk belajar!” ucapku tambah kesal
“Hmm…Begini saja, supaya kau tidak marah, aku punya tiket menonton drama musikal artis kesayanganmu loh!” rayunya
“Siapa?” tanyaku mulai goyah
“Ituuuu…Cho Kyuhyun…Mau tidak?” ajaknya
“JJINJARO?!” ucapku sambil memegang pipinya
“Neeee…Makanya jangan marah. Besok sepulang sekolah, bersiap-siaplah, jam 7 kujemput. Kita akan menonton drama musikal. Mau?” ajaknya sambil memegang pipiku juga
“Mau!Mau!Mau!” ucapku sambil mengangguk-anggukkan kepala
“Gitu dong! Ayo sekarang kerjakan soal selanjutnya” ucapnya sambil menyodorkan soal lagi
Aku pun terdiam dan langsung mengerjakan soal tersebut dengan semangat.
***
Siapa sih yang ngga suka sama Cho Kyuhyun? Dia adalah artis dengan suara yang sangat merdu. Aktingnya juga sangat bagus. Dan wajahnya? Aih! Wanita yang memacarinya akan merasa sangat beruntung. Akupun memersiapkn diri dengan sebaik-baiknya. Selain ingin melihat Cho Kyuhyun, aku juga ingin terlihat cantik didepan Sungmin.
Akupun mengenakan dress tanpa lengan berwarna hijau soft dan wedges dengan hak yang sedikit berwarna hitam. Ya~Kurasa ini sudah cukup. Aku memang intar dalam hal berdandan. Mungkin karena pengaruh dari Eommaku yang seorang designer.
Terdengar dari luar suara klakson mobil. Ya, itu pasti Sungmin yang memang rumahnya berada disebelah rumahku. Aku pun turun kebawah dan bertemu Eomma ku yang sedang menggambar sebuah design dress yang diminta oleh pelanggannya.
“Ciee…Yang mau nge-date…Sampaikan salam Eomma untuk Sungmin yaa?” ucap Eommaku
“Siapa yang mau nge-date. Yeee..Iya eomma. Annyeonghigaseyo~” ucapku sambil berjalan keluar.
Kulihat didepan Sungmin sudah menungguku dengan potongan blazer berwarna biru dongker dan kaos putih didalamnya. Dia memang selalu terlihat ganteng dimataku. Dia sedikit terpada melihatku. Dia tersenyum lalu membukakan pintu mobil untukku.
Selama perjalanan kami habisnkan dengan diam. Entah apa yang membuat kami menjadi canggung seperti ini. Hanya saja aku juga bingung mau membahas topik apa. Sesampainya di tempat drama musikal, dia membukakan pintu untukku dan mengajak masuk.
Tempat duduk kami berada di tengah-tengah. Hanya saja kami mendapat tempat duduk paling pojok. Sebagai laki-laki yang baik aku duduk dipojok dan dia duduk disebelahku yang disebelahnya ada seorang bapak-bapak bersama keluarganya.
Pertujukkanpun dimulai. Aku terpana oleh kegantengan dari Cho Kyuhyun yang menjadi pemeran utama di drama musikal tersebut.
“Ya~ Ngga perlu segitunya kali ngeliatin Kyuhyunnya” ucap Sungmin yang dari tadi merasa aneh dengan tatapanku yang rasa-rasanya seperti ingin menelan Kyuhyun
“Aih~ Kau tidak tahu betapa gantengnya dia!” jawabku sambil memegang tanganku sendiri
“Ck” ucap Sungmin
Author’s POV :
Mereka terdiam lagi. Mungkin Mihae tidak terlalu memperhatikan bahwa Sungmin sebenarnya dari tadi sudah memperhatikan Mihae. Ya. Dia menyukai Mihae sudah dari lama. Sejak pertama kali ibunya memperkenalkannya pada Mihae yang waktu itu masih berumur 7 tahun dan dia sendiri 9 tahun. Mihae yang saat itu dikucir 2 dan membawa boneka merupakan teman pertama Sungmin dan dia merasa bahwa Mihae itu sangat imut.
Sungminpun memberanikan diri untuk menggandeng tangan Mihae. Mihae yang sedang fokus dengan drama musikal tentu saja kaget. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa karena jantungnya sudah berdetak terlalu kencang sehingga ia tidak lagi fokus dengan drama musikal. Sesekali Sungmin mencium tangan Mihae. Melihat itu Mihae tidak tahu lagi harus berkata dan berbuat apa karena ia juga menyukai Sungmin.
Hingga drama musikal berakhir, Sungmin tetap menggandeng Mihae. Bahkan ia memakaikan blazernya pada Mihae agar tidak kedinginan. Selesai drama musikal, Sungmin memang tidak langsung pulang melainkan main ke rumahnya Mihae terlebih dahulu.
Saat ini mereka duduk di teras kamar Mihae. Terasnya memang lusa, ada tempat duduk yang berupa ayunan kayu disana. Mereka duduk disana sambil menatap halaman belakang rumah Mihae yang luas tanpa suara.
“Masuk yuk? Dingin. Aku takut kau sakit” ajak Mihae
Sungminpun mengangguk. Ia mengikuti maunya Mihae dan masuk kedalam kamar Mihae. Kamar itu juga luas. Di depan kasur terdapat DVD player dan TV flat berukuran 21 inch. Sungminpun duduk menyandar pada kasur menghadap kearah TV. Agar tidak terasa garing, Mihae memutuskan untuk menyalakan TV dan duduk disebelah Sungmin.
Mereka diam. Mata mereka mungkin menatap TV namun pikiran mereka sebenarnya melayang entah kemana. Memikirkan apa yang harus mereka lakukan sekarang. Sesekali melirik tanpa lama-lama, melihat apa yang dilakukan oleh pasangannya.
“Mihae-ah” panggil Sungmin sambil menyerongkan badannya menghadap Mihae
“Ne?” jawab Mihae tanpa memalingkan wajahnya. Grogi
“Alasan mengapa aku menggandengmu tadi...” ucap Sungmin ragu-ragu
Mihae menatap Sungmin, menunggu jawaban. Jawaban yang tentu saja ia inginkan. Jawaban penantiannya selama ini.
“Kurasa....Kurasa” ucap Sungmin grogi
“Mwo?” tanya Mihae semakin penasaran
“Kurasa aku menyukaimu” ucap Sungmin menatap Mihae. Menunggu jawaban sebelum akhirnya dia akan melanjutkan ungkapan perasaannya.
Mihae terdiam. Antara malu, senang, dan kaget mendengar ungkapan perasaan dari Sungmin. Dia hanya menatap Sungmin sambil terlihat terkejut. Sungmin yang merasa tidak mendapatkan jawaban pun semakin memperjelas ungkapan perasaannya.
“Mungkin kau kaget atau bahkan bisa saja setelah ini menjauhiku. Tapi, itulah perasaanku, Mihae-ah~ I love you from the first time i saw you” lanjut Sungmin
“A...ngg.. na do~” hanya itu jawaban yang bisa Mihae ucapkan. Dia terlalu grogi untuk berkata lebih banyak lagi.
“Jjinjaro ?” tanya Sungmin meminta kepastian
Mihae mengangguk sambil tersenyum, disambut oleh senyuman Sungmin yang merekah. Mereka senang karena akhirnya perasaan mereka bisa terungkapkan dan tidak bertepuk sebelah tangan. Sungmin pun menarik Mihae kedalam pelukannya. Memeluknya seakan tidak akan melepaskannya.
“Berjanjilah padaku kau akan bersamaku selamanya” ucap Sungmin menatap Mihae
“Iya~Kau juga” jawab Mihae
Merekapun berciuman. Rasa lega dan senang berkumpul menjadi satu dan mereka pun saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan dan menjaga hubungan mereka hingga akhir hayat mereka.
***
Tiga bulan berlalu. Hubungan Sungmin dan Mihae semakin dekat. Bahkan kedua orang tua mereka sudah tau akan hubungan mereka dan tentu saja merestui hubungan mereka. Mereka sering jalan-jalan keluar bareng, belajar bersama,makan bersama, menonton dan aktifitas lain yang biasa dilakukan oleh orang-orang pacaran.
Dimata Mihae, Sungmin adalah orang yang sempurna. Ia dewasa, perhatian, manis, dan romantis. Ia bisa menjadi Oppa, sahabat, pacar sekaligus musuh disaat bersamaan. Mihae merasa sangat beruntung dan nyaman ia bisa jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri.
Sungminpun merasa begitu. Dia juga beruntung memiliki Mihae. Sikapnya yang kekanakan sering membuat hari-harinya yang biasa saja menjadi luar biasa. Selama ini mereka memang sudah pernah berantem, tapi tentu saja akan langsung baikan karena diantara mereka berdua memang tidak ada yang betah dengan yang namanya berantem.
Hari ini adalah hari wisuda Mihae. Acara wisuda akan dimulai pukul 7 malam. Karena Sungmin harus mengerjakan tugas, maka ia meminta maaf kepada Mihae karena akan datang terlambat, tapi ia berjanji akan segera datang.
Acarapun dimulai dengan acara sambutan-sambutan, pemanggilan nama siswa satu persatu, pengumuman siswa terbaik, dan foto-foto. Saat ini sudah saatnya foto angkatan namun Sungmin belum saja datang. Mihae kesal, sangat kesal tapi ia tahu dia tidak boleh egois karena Sungmin mengatakan bahwa ia mengerjakan tugas kuliahnya. Hingga akhirnya Mihae menerima SMS dari Sungmin.
From : ♥
Aku sudah sampai. Tapi parkir penuh
Hujan sangat lebat
Aku akan berjalan menuju gedungmu
Tunggu aku 1 menit ya ^^
Mihae sangat senang melihat SMS itu. Mihaepun menunggu Sungmin sambil berfoto-foto ria dengan sahabat-sahabatnya dan keluarganya. Ketika sedang asyik foto-foto, tiba-tiba terdengar suara roda mobil berdecit dan menabrak sesuatu. Orang yang berada didalam gedungpun langsung keluar, termasuk Mihae dan keluarganya.
Terjadi sebuah kecelakaan. Sebuah mobil menabrak orang yang sedang menyebrang. Dan betapa terkejutnya Mihae, orang itu adalah....... SUNGMIN! Mihae pun berlari menerobos kerumunan dan hujan sambil menangis sangat keras. Ia berlari menuju Sungmin yang tergeletak ditengah jalan sambil memeluk sebuah kado yang akan diserahkan kepada Mihae. Kepala dan seluruh badannya penuh dengan darah. Mungkin karena ia sedang terburu-buru dan mobil yang menabraknya juga sangat kencang sehingga badannya hancur seperti itu.
“Sungmin-ah~” panggil Mihae yang memeluk tubuh Sungmin
“Banguuuuun! Bangun Sungmin-ah!Banguuuuuuuuuun!!!” teriak Mihae berusaha membangunkan Sungmin yang tidak sadarkan diri
“Sungmin~ah! SUNGMIN~AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!”
***
Seorang gadis melangkah menuju rumah asramanya. Gadis itu bernama Choi Mihae. Siswa berasal dari Korea yang sengaja melanjutkan studynya ke Amerika ini demi melupakan segala kenangan tentang Sungmin, pacarnya yang telah meninggal karena kecelakaan.
Ia menghindar. Menghapus segala hal yang mengingatkannya pada Sungmin, lelaki yang dicintainya. Merasa terhianati karena Sungmin berjanji akan menemaninya hingga akhirnya mereka berdua akan sama-sama pergi dari dunia ini. Tapi apa nyatanya sekarang ? Sungminlah yang pergi duluan meninggalkannya. Ia marah. Ia menyalahkan dunia, bahkan Tuhan. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang menyuruh Sungmin cepat-cepat datang ke perpisahannya. Ia yang memaksa Sungmin untuk datang, padahal mereka bisa saja bertemu di rumah.
Pattern University. Sebuah universitas yang sangat terkenal karena sistem rumah asramanya. Ya Pattern University memang universitas yang memiliki siswa yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Memiliki sistem rumah asrama yang setiap rumahnya berukuran 40 x 100 meter yang diisi 2 orang siswa yang berbeda jenis kelamin. Ya. Asrama ini memang membebaskan siswanya namun tetap saja siswa harus mematuhi peraturan yang berlaku.
Disinilah Mihae berada sekarang. Menghadap rumah kecil berwarna soft peach yang memiliki nomor 18 ini. Katanya rumah ini sudah didiami oleh seseorang yang katanya berasal dari fakultas yang sama dengannya namun ia sudah 2 tahun berada di sini. Iapun melangkah, membuka engsel pintu dan menaruh barang-barangnya di sebuah kamar atas yang berada didepan kamar bertuliskan ‘MY ROOM’. Tentu saja orang itu menggunakan kamar tersebut. Barang-barang yang lain memang sudah dikirim sejak lama sehingga ia hanya perlu membawa 1 koper besar berisi baju-baju.
Setelah meletakkan bawaannya, ia mengganti bajunya dengan kaus putih longgar dan celana boxer berwarna cokelat. Ia berjalan mengelilingi rumah dan melihat-lihat ruangan-ruangannya. Ia membuka korden ruang santainya yang ternyata memiliki pemandangan yang sangat indah, yaitu pantai Pattern.
Ia mengolet, sampai ia mendengar ada suara orang membuka kulkas di dapur. Mungkin itu teman serumahnya. Iapun bergegas menuju dapur. Dilihatnya seorang laki-lai dengan tinggi 175 cm sedang mencari-cari sesuatu dari kulkas. Ia mengenakan kaus putih lengan panjang dengan motuf garis-garis biru dan celana panjang biru dongker.
“Hello...Ehm...I’m sorry, I’m your new housemate” ucap Mihae menyapa orang tersebut
Orang itu menoleh dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tampaknya ia juga orang Korea. Terlihat dari tipe-tipenya ia adalah orang Korea. Tapi Mihae tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bisa saja ia berasal dari Cina atau mana yang memiliki bentukan yang sama dengan orang Korea.
“My name is Choi Mihae” ucap Mihae sambil mengulurkan tangan
“Ah~ I’m Lee Donghae” jawabnya sambil membalas uluran Mihae
“Are you Korean ?” tanya Mihae
“Ne~ Dan kau juga?” tanyanya balik
“Ah ne..Wow senang rasanya mendapat housemate seorang yang berasal dari daerah yang sama” jawab Mihae
“Ah . Ia membuka korden ruang santainya yang ternyata memiliki pemandangan yang sangat indah, yaitu pantai Pattern.
Ia mengolet, sampai ia mendengar ada suara orang membuka kulkas di dapur. Mungkin itu teman serumahnya. Iapun bergegas menuju dapur. Dilihatnya seorang laki-lai dengan tinggi 175 cm sedang mencari-cari sesuatu dari kulkas. Ia mengenakan kaus putih lengan panjang dengan motuf garis-garis biru dan celana panjang biru dongker.
“Hello...Ehm...I’m sorry, I’m your new housemate” ucap Mihae menyapa orang tersebut
Orang itu menoleh dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tampaknya ia juga orang Korea. Terlihat dari tipe-tipenya ia adalah orang Korea. Tapi Mihae tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bisa saja ia berasal dari Cina atau mana yang memiliki bentukan yang sama dengan orang Korea.
“My name is Choi Mihae” ucap Mihae sambil mengulurkan tangan
“Ah~ I’m Lee Donghae” jawabnya sambil membalas uluran Mihae
“Are you Korean ?” tanya Mihae
“Ne~ Dan kau juga?” tanyanya balik
“Ah ne..Wow senang rasanya mendapat housemate seorang yang berasal dari daerah yang sama” jawab Mihae
“Ah ye~ Begini ya Mihae. Aku langsung saja akan menjelaskan peraturan di rumah ini. Aku kuliah akan sampai sore dan aku bekerja part time disebuah perusahaan sehingga aku akan pulang malam sehingga aku tidak bisa mengurus rumah, jadi aku ingin kau membersihkan rumahku setiap hari, mencuci pakaianku, yaa pokonya semua. Tentang bahan makanan. Aku sudah mengosongkan space di paling bawah, kau bisa menggunakannya, sedangkan yang atas tidak bisa kau ganggu gugat. Mereka milikku. Dan aku juga mohon ketika aku belajar di ruang belajar sebelah ruang santai, jangan sekali-kali menggangguku.” Ucap Donghae panjang lebar
Mihae terdiam. Menatap pria dengan rambut berwarna cokelat tua itu. Kaget karena rasanya ia menjadi seperti pembantu, tetapi ia tidak bisa protes karena ia adalah pendatang baru dan Donghae adalah seniornya.
“Ah ya. Karena kau lebih muda dariku, kau harus memanggilku kakak, Ah~ Panggil aku Oppa.” Sambungnya lagi
Seumur-umur Mihae belum pernah bertemu dengan orang yang begitu menyebalkan sepertinya. Ia tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan Oppa. Bahkan Sungminpun tidak ia panggil Oppa. Ini dikarenakan ia adalah anak tunggal. Tapi, apa daya ia tidak bisa mengeluh karena sekali lagi, dia hanyalah seorang junior.
“Paham ?” tanya Donghae yang meminta respon dari Mihae
“Ah ne!” jawab Mihae
“Bagus. Sekarang aku ingin tidur dan jangan ganggu aku, kalau ada yang mencariku bilang aku pergi” ucap Donghae sambil berlalu
Yak, Mihaepun merasa hari-hari menyebalkan dan melelahkan akan segera dimulai.
***
Satu tahun sudah Mihae berada di Pattern University. Ia merasa kelelahan karena harus membereskan rumah setiap hari. Donghae yang selalu datang diatas jam 7 malam menambah kekesalannya dengan mengomel tentang pekerjaannya yang serba ini-itu. Belum lagi pelajaran yang semakin susahm dan perasaan kangen Sungmin yang selalu melandanya tiap malam. Namun ia harus bertahan karena ia yakin suatu saat ia akan melupakan Sungmin.
Hari itu, Mihae baru pulang pukul 6 sore. Ia harus mengerjakan tugas kelompok. Dengan cepat iapun berlari menuju rumah dan langsung membereskan rumah. Ia takut ia akan terkena semprotan Donghae yang ia anggap sangat menyebalkan. Ia merasa sangat capek. Hari ini ia kuliah dari puku 7 pagi hingga 6 sore tanpa istirahat sama sekali.
Iapun mengelap kaca, meyapu, mencuci piring, mencuci baju dan mengelap meja. Karena saking kelelahannya, ia bahkan sampe ketiduran dengan kepala diatas meja ruang santai.
Pukul 7pun tiba. Donghae pulang dari tempat kerjanya dan kaget melihat Mihae yang terdiam dengan kepala diatas meja. Dengan kesal ia berjalan menuju Mihae. Ingin rasanya ia memarahi Mihae. Tapi, ia bertambah kaget ketika melihat Mihae sedang tertidur pulas. Donghaepun berpikir bahwa Mihae kecapekkan. Iapun duduk disebelah Mihae dan menatap tampang polos Mihae yang sedang tertidur pulas. Ia mengelus muka Mihae dan merasakan panas disana. Iapun langsung memegang dahi Mihae. Ya. Mihae sakit. Dengan segera Donghae menggendong Mihae menuju kamarnya.
Kamar yang dulunya polos kini menjadi lebih berwarna karena Mihae sudah memodifikasinya. Ada meja belajar yang penuh dengan foto-foto dibawah kaca dan poster-poster idola Mihae. Diranjangnya juga terdapat sebuah buku pelajaran. Rupanya Mihae selalu membaca buku pelajaran setiap sebelum ia tidur.
Donghaepun membaringkan Mihae diatas ranjangnya, menyelimutinya dan pergi kedapur mencari kompresan yang ada dikotak obatnya. Iapun mengompres Mihae yang masih terlelap. Gadis itu memang manis. Pipinya merona mungkin karena badannya yang panas. Sesekali ia mengigau menyebut nama Sungmin;. Donghaepun hanya diam.
***
Mihae terbangun esok paginya, melihat jam weker di sebelahnya, menunjukkan pukul 9 pagi, ia kaget, sudah seharusnya ia berada dikelas, tapi ketika bangun, semuanya berputar hingga akhirnya dia memutuskan untuk tetap di kasur.
Ia memegang kepalanya dan merasaakan ada kompresan di dahinya, ia kaget ia sadar bahwa ia kemarin tertidur di meja. Siapa gerangan yang memidahkannya? Donghae-Oppa? Tidak mungkin! Ah mungkin dia tanpa sadar berjalan menuju ruangannya sendiri.
“Aku yang menggendongmu kesini” ucap seseorang yang rupanya Donghae dari arah pintu
Mihae menoleh, melihat Donghae dengan cardigan biru dongker dan kaus polos abu-abu dan celana putih didepan pintu sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat coklat panas dan soup.
“Kembalilah tiduran, ini aku buatkan soup dan hot chocolate supaya panasmu mereda” ucapnya sambil menuju kasur Mihae
Donghae meletakkan nampan diatas pangkuan Mihae. Melihat kebaikkan Donghae yang tidak seperti biasanya, Mihae hanya bengong, sedikit shock lebih tepatnya. Ia heran ternyata orang seketus, sejahat, setidakperasaan seperti Donghae bisa juga menjadi orang yang sangat perhatian.
“Makan! Kenapa hanya diliatin saja?” ucap Donghae sedikit memaksa
“Ah~ne, Oppa. Kamsahamnida” jawab Mihae sambil menyendok soup buatan Donghae
Rasa soupnya sangat enak. Hangat, gurih dan yaaa~ susah didefinisikan. Yang jelas Mihae sangat menyukainya. Ia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Donghae pandai memasak. Ternyata masih banyak yang belum ia ketahui tentang Donghae.
Donghae mengamati Mihae yang sedang makan. Pipinya yang chubby, bibirnya yang meraah dan matanya yang bulat. Terlihat begitu manis dimatanya. Mihae tampak menikmati soup buataanya. Terlihat sekarang di mangkoknya sudah ¾ isi sudah dilahapnya.
“Masih lapar?” tanya Donghae
Mihae hanya menggeleng. Dimulutnya penuh dengan makanan sehingga ia tidak bisa menjawab pertanyaan Donghae.
“Mau kuambilkan lagi?” tanya Donghae lagi
“Bangan!Nni aba ujah pupup!” jawab Mihae yang dimulutnya masih penuh dengang soup
“Mwo?” tanya Donghae tidak mengerti apa yang diomongkan Mihae
“I said, No...This is enough” jawab Mihae yang sudah menelan soupnya
“Kau tau? Setahuku orang sakit tidak memiliki selera makan. Kenapa kau malah sangat lahap?” tanya Donghae sambil mengambil nampan yang sudah habis isinya dan menaruhnya di meja samping kasur Mihae
“Berarti kau sok tahu......Oppa” jawab Mihae
“Sial. Yasudahlah. Hari ini aku tidak akan kemana-mana. Tidurlah. Panggil aku kalau kau butuh bantuan” ucap Donghae sambil keluar membawa nampan
***
Mihae’s POV :
Malam ini lagi-lagi aku terbangun ditengah malam. Ya. Lagi-lagi aku memimpikan dia. Memimpikan Sungmin. Mimpi yang semakin hari semakin membuat hatiku sakit. Hari ini aku mimpi aku dan dia ada berada di tepi danau yang sangat luas. Dia tersenyum padaku dan berkata “Mihae-ah aku akan pergi. Kau tetap disini ya? Sampai ada orang yang membantumu baru kau melangkah” dan ia pun berjalan ke tengah danau yang semakin ketengah semakin dalam dan menghilang. Tenggelam ditelan danau itu. Aku berteriak. Menangis. Memanggil namanya. Tapi ia hanya tersenyum dan pergi. Lalu akupun terbangun.
Aku berjalan menuju ruang santai. Membuka korden dan duduk di sofa. Memeluk kedua kakiku sambil menatap lautan. Aku ingin menangis. Tapi tak ada air mata yang keluar. Aku ingin berteriak. Tapi tak ada suara yang mendengar. Aku hanya duduk diam. Menatap nanar pemandangan yang ada didepan.
“Tidak bisa tidur?” sapa seseorang dari belakangku
Aku menoleh. Melihat Donghae-Oppa mengenakan kaus singlet hitam dan celana panjang biru dongker. Ditangannya ada segelas air putih. Nampaknya dia terbangun karena haus.
“Ne~” jawabku sambil memalingkan mukaku memeluk kakiku lagi
“Mimpi buruk?” tanyanya lagi sambil meletakkan kedua sikunya di sandaran sofa.
“Ne~” jawabku lagi
Tak ada jawaban. Yang kutahu Donghae pergi. Meninggalkanku yang sebenarnya sangat butuh teman untuk berbagi. Aku lelah dengan keadaan seperti ini yang terus-terusan terbayang muka Sungmin.
Tiba-tiba, Donghae duduk disebelahku. Meletakkan 1 botol wine, 1 kotak orange juice dan 2 gelas di atas meja. Ia tersenyum sambil membuka botol pertama.
“Aku tidak bisa minum alkohol. Aku benci alkohol” ucapnya
Aku hanya terdiam memandangnya. Membiarkannya membuka botol itu.
“Apakah kau peminum ?” tanyanya
“Aniyo~ jawabku. Aku hanya pernah minum sekali ketika merayakan ulang tahun temanku.” Jawabku
“Dan bagaimana rasanya?” tanyanya
“Tidak enak” jawabku
“Menurut temanku, ketika kau sedang tertekan, enak kalau meminum wine. Dan iapun membelikan aku ini. Tapi, aku tidak menyukai alkohol. Jadi, anggap saja ini minuman ucapan selamat datang untukmu.” Ucapnya sambil menuangkan sedikit wine ke gelas dan menyerahkannya padaku.
“Gomawo”jawabku menira gelas itu dan menyesapnya
Rasanya berbeda dengan wine yang kuminum di ulang tahun temanku. Yang ini lebih terasa hangat dan menenangkan. Aku pun langsung menyesap habis dan menuangkan lagi.
“Ya~ Jangan minum terlalu banyak” ucap Donghae memperingatkan aku sambil meminum orange juice nya
Aku mengacuhkannya. Aku menyesap lagi dan menuangkan lagi. Begitu seterusnya hingga tak terasa aku sudah menghabiskan ¾ botol.
Donghae’s POV
Ya! Perempuan ini sudah menghabiskan ¾ botol. Aku menyesal sudah memberikan minuman ini padanya.
“Ya~ Sudah cukup! Kau tidak boleh minum lagi!” ucapku sambil menyingkirkan botol itu ke pojokkan meja
“Haha” jawabnya hanya tertawa sambil berusaha menggapai-gapai botol yang kuambil
“Mihae-ah. Kau sudah mabuk!” ucapku sambil menahan badannya yang nyaris jatuh
“Haha” ucapnya hanya tertawa
Akupun menyenderkan badannya ke sofa. Menatapnya penuh dengan kelembutan. Ya. Aku tahu aku sudah menyukainya. Mungkin terlalu cepat. Tapi. Ya. Dengan tegas kukatakan bahwa aku menyukainya. Kurapikan rambutnya dan kuelus pipinya yang memerah karena alkohol. Tiba-tiba ia menangis. Meneteskan air mata. Air mata yang menunjukkan rasa sakit.
“Sungmin kau jahat” ucapnya sambil menangis
Sungmin ? Nama itu lagi. Nama yang selalu ia sebut ketika ia ngelindur. Bagaimana aku tahu? Ya. Aku memang memiliki kebiasaan buruk dalam tidur. Aku selalu terbangun tengah malam dan dengan otomatis menuju dapur mengambil segelas air putih. Dan ketika aku keluar dari kamar, aku selalu mendengar nama ‘sungmin’ disebut.
“Siapa sungmin ?” tanyaku
“Dia pacarku. Mantan pacarku lebih tepatnya. Dia meninggalkanku. Padahal dia janji akan selalu bersamaku. Tapi apa ? Dia malah pergi duluan. Pergi ke tempat yang tak mungkin kujangkau saat ini.” Jawabnya sambil terus menangis
“Maksudmu ?” tanyaku lagi tidak mengerti
“Mobil sialan!” jawabnya sambil memukul dadaku
Ia memukul dadaku berkali kali. Menangis dan berteriak ‘mobil sialan’ berkali-kali. Aku menahan tangannya. Membuat ia mendekat. Iapun meletakkan kepalanya di dadaku. Dari situ aku bisa mencium wangi shampoo dan parfume yang dia gunakan. Ia menangis. Menangis melepaskan semua luka yang ia rasakan selama ini.
“Aku harus melupakannya. Aku harus melupakannya. Harus.” Ucapnya lirih
“Dengarkan aku Mihae-ah. Mungkin aku tak mengerti bagaimana rasanya. Tapi percayalah kau akan baik-baik saja” ucapku memegang wajahnya. Menatapnya penuh dengan kelembutan.
***
Mihae terbangun. Kepalanya berat. Sangat berat.Ini pasti efek minum semalam. Pikirnya. Dilihatnya jam di kamarnya menunjukkan pukul 8 pagi. Lagi-lagi ia terlambat bangun. Ia harus berada di dalam kelas 15 menit lagi. Dengan kepala yang berat ia berlari keluar menuju kamar mandi. Ketika keluar, dilihatnya Donghae masih berada didalam kamarnya.
“Ya~ Mau kemana kau?” tanya Donghae
“Kuliahlah! Mau kemana lagi? 15 menit lagi aku harus berada dikelas!” ucap Mihae sambil berlari lari mengambil ini itu
“Pabo! Ini kan hari minggu!” teriak Donghae lagi
Mihae memberhentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi yang berada di ujung lorong. Ditangannya ada celana dalam, bra, dan baju yang akan ia kenakan. Ia menoleh. Menatap Donghae yang sedang menyender di pintu kamarnya sambil tertawa.
Donghae menatap Mihae penuh dengan kegelian. Tidak menyangka bahwa wanita yang disukainya ini begitu bodoh. Mihae pun menghampiri Donghae dengan sedikit kesal.
“Ya~ Aku tahu aku bodoh, tapi Oppa tidak perlu tertawa sampai sepuas itu kan?” ucap Mihae sambil mengacung-acungkan tangan kanannya yang masih bebas dari bawaan
“HAHAHAHAHAA” tawa Donghae semakin keras
“I~ih Oppa!” ucap Mihae sambil memukul lengannya
Mihae terkejut. Iapun memegang tangan Donghae lagi. Lalu ia memegang leher dan dahi Donghae. Panas. Sangat panas. Apakah karena Donghae menemani Mihae sampai larut malam sehingga ia sakit ? Itu yang ada dipikiran Mihae.
“Oppa. Kau sakit” ucap Mihae meletakkan barang bawaannya ke meja kecil yang berada didepan kamar Donghae.
“Aniyo~” jawab Donghae menghindar dari tangan Mihae
“Ish~ Oppa!” ucap Mihae sambil mendorong Donghae masuk kekamarnya
Mihae mendorong Donghae masuk kekamarnya dan mendudukannya di atas kasur. Ia memaksa Donghae untuk tiduran dan menyelimutinya.
“Jankanmanyo~ Aku akan membuatkan soup dan hot chocolate” ucap Mihae sambil pergi meninggalkan Donghae
Donghae hanya geleng-geleng melihat tingkah Mihae. Senang tapi juga sedih karena harus mengetahui bahwa Mihae belum bisa melupakan Sungminnya.
***
“Oppa~” panggil Mihae sambil membuka pintu kamar Donghae
Terakhir ia meninggalkan Donghae adalah ketika Donghae selesai memakan soup dan hot chocolate buatannya.
“Masuklah” jawab Donghae dari dalam
“Oppa sudah bangun ?” tanya Mihae ragu-ragu berjalan menuju kasur Donghae.
Dilihatnya disana Donghae sedang duduk dengan bantal dipunggungnya, membaca buku, entah buku apa itu. Donghaepun menatapnya penuh dengan kelembutan.
“Waeyo ?” tanya Donghae
“Aniyo~ Oppa. Aku mau bertanya apakah kau sudah tahu apa yang terjadi padaku ?” tanya Mihae
“Maksudmu?” tanya Donghae
“Nggg, itu semalam~ Apakah kau mendengar semua ceritaku ?” tanyanya lagi
“Ya. Waeyo ?” tanya Donghae lagi
“Nggg, aniyo~ hanya saja.... Apakah kau menciumku, Oppa ?” tanyanya
Donghae terkejut. Ia bingung harus berkata apa. Bungkam. Memandang Mihae penuh arti. Mihaepun juga menatap Donghae. Menunggu penjelasan.
“Ya” jawab Donghae penuh dengan kemantapan.
Mihae terkejut. Ia kaget. Tak menyangka ternyata semua ini bukanlah mimpi. Segalanya ternyata nyata. Ciumannya, balasannya, semuanya.
“Mianhae, Oppa. Aku tidak bermaksud menciummu. Aku hanya...hanya” ucap Mihae
“Aku mencintaimu, Mihae~”
***
Donghae’s POV :
Malam itu...
“Dengarkan aku Mihae-ah. Mungkin aku tak mengerti bagaimana rasanya. Tapi percayalah kau akan baik-baik saja” ucapku memegang wajahnya. Menatapnya penuh dengan kelembutan.
Aku menatapnya. Gadis ini. Aku harus melindunginya ! Tidak akan kubiarkan siapa saja menyakitinya bahkan diriku sendiri.
“Gomawo Oppa~” ucapnya
“I love you, Mihae” ucapku
Akupun mengecup bibirnya. Lembut. Penuh kasih sayang seakan-akan dengan aku menciumnya, segala kesakitan akan hilang. Aku merasakan dia juga membalas ciumanku. Mungkin dia membayangkan aku Sungmin hanya saja aku tidak peduli. Ya, saat ini yang kupikirkan hanyalah perasaanku.
Aku melepaskan ciumanku. Kulihat ia menatapku dengan muka yang memerah dan tertidur di dadaku. Dengan sigap aku memeluknya, menggendongnya dan membawanya ke kamarnya. Menidurkannya disana, menyelimutinya.
Setelah menidurkannya, aku beranjak menuju kamarku. Memukul-mukul kepalaku. Bodoh ! Bodoh ! Bodoh ! Sangat bodoh ! Seharusnya ia tidak boleh mencium Mihae. Seharusnya aku harus menahannya ! AAARGH!
Aku terduduk dibalik pintu. Terbayang-bayang ciuman kami. Ciuman yang berbeda dengan ciuman-ciumanku dengan wanita lain. Kali ini penuh dengan perasaan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut Mihae marah dan menjauhiku. Aku takut dia membenciku.
AAAARRRRGGGGHHHH!!!
***
Mihae’s POV :
Aku terkejut. Tidak menyangka ternyata semuanya memang nyata. Ciumanku bersama Donghae-Oppa ternyata nyata. Bukan pura-pura. Bukan khayalan semata. Dan DENGAN DONGHAE-OPPA bukan sesosok SUNGMIN tapi benar-benar dengan Donghae-Oppa. Tak ada lagi bayanganku tentang Sungmin.
“Mihae-ah~ Aku mencintaimu” ucapnya
Kata-kata itu lagi. Kata-kata yang sudah tidak pernah aku dengar selama kurang lebih 1 tahun ini. Kata-kata yang selalu Sungmin ucapkan sebelum aku tidur atau berpisah dengannya.
“Tapi..Oppa” jawabku
Aku ragu-ragu. Sebelah hati aku ingin mencoba bersama Donghae-Oppa tapi sebelah hatiku masih belum bisa melepas Sungmin. Aku bingung. Tak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Arasseo...Aku tahu kau masih memikirkan Sungmin. Tapi.... Biarkan aku membuat Sungmin menjadi kenangan yang menyenangkan, bukan menyakitkan.” Ucapnya tulus
Ya. Aku tahu aku juga menyukai Donghae-Oppa. Tapi aku takut aku hanya menyakiti Donghae-Oppa. Aku takut nantinya aku hanya terpaksa saja. Aku takut menjadikan Donghae-Oppa pelampiasan saja.
“Dengarkan aku, aku tahu kau takut kau hanya menjadikan aku pelampiasan. Tapi, kumohon, aku akan berusaha membuatmu bahagia, Mihae. Aku janji... Beri aku waktu” ucapnya menggenggam tanganku
Akupun hanya terdiam
***
Mihae’s POV
Annyeonghaseyo~ Ya. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku. Bagaimana tidak? Hubunganku dengan lelaki yang kucintai berakhir sangat membahagiakan yaitu pernikahan. Ya yeorobun! I’m going to get married !
Pattern University. Kampus yang mempertemukan kami. Mempertemukan aku dengan Lee Donghae. Dia lebih tua dariku 2 tahun. Setelah hubungan ‘coba-coba’ kami, akhirnya aku menyadari bahwa aku memang benar-benar mencintainya.
Hal ini terbukti 1 tahun yang lalu, ketika ia lulus dari universitas dan kembali ke Korea. Ya. Aku merasakan rindu. Dan dengan sabar dia bersedia menungguku keluar dari universitas untuk menikahiku. Dan disinilah kami sekarang.
Setelah mengucapkan janji pernikahan, pestapun diadakan. Kami memang sengaja merayakannya secara kecil-kecilan saja. Hanya keluarga dan sahabat saja yang diundang. Dan kau tahu ? Keluarga Sungmin juga datang.
Aku merasa beruntung mendapatkan Donghae-Oppa. Kasih sayangnya, kesabarannya, semuanya. Ia sabar menungguku hingga aku benar-benar bisa melepaskan Sungmin, menungguku lulus dari Pattern dan menikahiku.
Saat ini dia terlihat sangat ganteng. Tuxedo yang dipakainya terlihat sangat pas di badannya. Menambah ketampanan di wajahnya.
“Yak! Ayo sekarang saatnya pengantin foto !” teriak ayahku
Akupun menggandeng Donghae-Oppa. Mengajaknya untuk foto. Setelah itu kami juga foto bersama orang-orang yang datang. Setelah foto-foto, Donghae-Oppapun segera mengambil kamera dari tangan ayahku untuk dilihat hasilnya.
Aku sangat berterimakasih dengan Donghae-Oppa. Dia bisa menerimaku apa adanya. Dan aku juga berterima kasih pada Sungmin yang ternyata memang tidak pernah meninggalkanku, dia hanya menunjukkan jalan padaku bahwa diluar sana ada orang yang sangat pantas untukku.
“Mihae-ah!” panggil Donghae-Oppa
“Ne, oppa ? Waeyo ?” tanyaku menghampirinya
“Siapa lelaki ini ?” tanyanya
Akupun mengambil kamera yang dipegangnya. Mengamati foto yang ditunjukkannya. Foto kami berdua. Hanya berdua. Dengan seseorang ditengahnya.Tersenyum merangkul kami. SUNGMIN!
THE END
*Haha maaf yaa ngga jelas gini udah gitu disini Sungmin sama Donghae bukan anggota Super Junior, tapi, FYI, ini based on true story loh! Lebih tepatnya based on my dream yang aku mimpikan hari Minggu, 24 Oktober 2011. Aku beneran mimpi ini loh ! Tapi, yaaaa di edit-edit dikitlah :D